Kejadian Hampir Mati di TransJakarta


Bener kata mbak Triniti di bukanya, “Naked Traveller” di buku yg ke tiga atau empat ya, saya lupa, intinya, traveling itu tidak selalu indah, seperti yg tertulis dalam blog, artikel2, buku2 wisata dll.

Nah.. begitulah, saya juga punya cerita mendebarkan waktu jalan2 ke Jakarta tahun… kalo ngga salah 2008. Cuma baru sempat nulisnya sekarang, dulu mau ditulis, tapi ntarlah ntarlah, makanya jadi sekarang.

Ceritanya, saya habis stres berat setelah menyelesaikan pekerjaan yg berat yg seharusnya tidak berat, hanya saja diberat-beratkan. Lah…??

Waktu itu saya diminta memimpin petugas lapangan freelance sebanyak 10 org yg kesemuanya itu bukan pilihan saya sendiri, bukan tim pilihan lah gitu, dengan tabiat bermacam-macam, ampun dah. Ribet. Semuanya lebih tua, bahkan bapak2 semua. Yah. Intinya kerjaan hampir kandas lah. Akhirnya selesai juga. Saya sempat berjanji dalam hati, pokoknya, selesai kegiatan ini, harus pergi jauh refreshing, meski cuti tahunan habis. Nekad balas dendam. Lari.

Dan beneran nih, saya libur dari kantor seminggu. Heuheuheu. Pimpinan baik hati, karna dia tau, saya hobi nekad. Ngga diijinin pun akan pergi. Makasih..!! Pergilah saya sampai di jakarta. Tidak, tidak. Ceritanya malah melebar. Kembali ke judul..

Ditemani teman SMA yg kuliah di UI depok, saya berangkat dari kos2annya di depok lalu puter2 jakarta kesana kemari, di hari terakhir sebelum ke bandung, pulang dari ancol, naik transjakarta.

Nah.. ceritanya dimulai disini nih..

Jalanan sore itu hujan, buswaynya yg jenis gandeng panjang itu, saya dan teman duduk paling belakang, jalanan macet dimana-mana. Salah memang pilih liburan kok di jakarta, tapi waktu itu lagi mupeng naik wahana terbaru di dufan sih makanya ya sudah jakarta lah.

Bus berjalan pelan2 sayup2 merangkak. Macet. Lalu kadang longgar dan normal, lalu macet. Sampai suatu persimpangan. Nah.. ternyata itu simpangan kereta, macet pula. Tatkala bus yg kami tumpangi sudah melewati batas palang kereta, otomatis kami ada di antrian macet yg akan melintasi rel kereta.

Tiba2…

Teng teng teng 1000x

Dan palang kereta menutup. Kami ada di tengah. Bus gandeng panjang ada di tengah!!!! Iya Tengah!!

Mulai.. org2 kasak kusuk, para pak ogah di luar pun juga teriak2in mobil didepan kami, “maju… majuu woii”

30 detik…

Penumpang mulai gelisah..

60detik.

Menumpang teriak2 di pintu busway, Minta sopir bukain pintu.

“Pak… buka pak..!! Buka pintu pak..!!

Lah, kami berdua?? Cemas iya, takut iya, gilaa saya pamitnya di kantor bukan ke luar kota, masak kalo kecelakaan nanti nama saya masuk di koran2 nasional??

“Gimana nih Ham!!?” Saya dan ilham teman saya sudah standby di pintu belakang nunggu dibuka. Diluar org2 sudah semakin teriak2 mengurai kemacetan. Yg lain sudah standby nonton kalo2 ada pertunjukan kecelakaan seru. Kan kampret.. kami jadi tontonan waktu itu.

Si ilham, cengar-cengir, mukanya keliatan dipaksa nyengir. Ketakutan juga dia tuh.

Ah.. kalo memang jadwalnya koid di sini, ya berarti memang di sini lah batas umur saya. Pikirku waktu itu.

Bunyi palang pintu itu masih terus menyeramkan.

Pintu tidak dibuka-buka juga, sepertinya sopir busway punya perhitungan lain, ya benar saja, para pak ogah berhasil mengurai kemacetan. Bus Kami beringsut maju perlahan.

Ayooo.. ayooo.. ayoo…

Hore!!!! Semua teriak ketika kami sudah melewati batas aman. PAk ogah waktu itu udah kayak superman saja.

Akhirnya, nama2 kami semua yg di dalam busway transjakarta batal masuk koran dipagi hari esoknya.

Liburan pun saya lanjutkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s